A.
Syarat-syarat Ilmu Yang Dipilih.
Menurut Abu Hanifah : Fiqih adalah pengetahuan tentang hal-hal yang berguna, yang
berbahaya bagi diri seseorang. Sedangkan Ilmu itu
hanya untuk diamalkannya, sedang mengamalkan di sini berarti meninggalkan sesuatu hal demi akhirat.
Bagi pelajar, dalam masalah ilmu
hendaklah memilih mana yang terbagus dan dibutuhkan dalam kehidupan agamanya pada
waktu itu serta untuk waktu
yang akan datang.
Hendaknya lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid, ilmu untuk mengenali Allah SWT lengkap
dengan dalilnya. Hendaknya pula memilih ilmu-ilmu yang
kuna, bukan yang baru lahir. Banyak
ulama berkata : "Tekunilah ilmu kuna, bukan yang
baru saja ada." Awas, jangan sampai terkena pengaruh perbantahan yang
tumbuh subur setelah habisnya ulama besar, sebab menjurus untuk menjauhkan
pelajar dari mengenali ilmu fiqh, dan hanya menghabiskan usia dengan tanpa
guna, menumbuhkan sikap anti-pati/buas dan gemar bermusuhan. Dan itulah
termasuk tanda-tanda kiamat akan tiba serta lenyapnya fiqih dan
pengetahuan-pengetahuan lain, demikianlah menurut hadits.
B. Syarat-syarat
Guru Yang dipilih
Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro' dan juga
lebih tua usianya. Sebagaimana Abu Hanifah , setelah
lebih dahulu memikir dan mempertimbangkan lebih lanjut, beliau menentukan pilihannya untuk
menimba ilmu kepada tuan Hammad Bin Abu Sulaiman. Dalam hal
ini dia berkata : "beliau saya kenal sebagai orang tua yang budi luhur,
berdada lebar serta penyabar. Katanya lagi: saya mengabdi di pangkuan tuan
Hammad Bin Abu Sulaiman, dan ternyata sayapun makin berkembang."
C. Memilih
Teman
Tentang memilih teman, hendaklah memilih yang tekun, waro, bertabiat jujur
serta mudah memahami masalah. Dan
menghindari orang pemalas, penganggur, banyak
bicara, suka mengacau dan gemar memfitnah.
Syiir dikatakan:
- Jangan bertanya siapakah dia? Cukup kau tahu oh itu temannya.karena siapapun dia, mesti berwataq seperti temannya.
- Bila kawanya durhaka, singkirilah dia serta merta.bila bagus budinya, rangkullah dia, berbahagia!
- Jangan kau temani sipemalas, hindari segala halnya, banyak orang shaleh menjadi kandas, sebab rerusuh sandarannya
- Menjalar tolol kepada cendikia, amat cepat terlalu laksana api bara, ia padam di atas abu
- Bilakau ingin mendapat ilmu dari ahlinya , Atau ingin tahu yang gaib dan memberitakannya
- Maka dari nama bumi, ambillah pelajaran tentang isinya , dan dari orang yang di temani, ibaratkanlah tentang dia
Nabi saw bersabda : Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan kesucian islam,
hanya kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.
Dikatakan
kata hikmah dalam bahasa persi :
- Teman yang durhaka, lebih berbisa daripada ular yang bahaya
Demi Allah Yang Maha Tinggi, Nan Maha Suci
- Teman buruk, membawamu ke neraka jahim
Teman bagus, mengajakmu ke surga na'im
D.
Bermusyawarah
Abu Hanifah berkata : Saya mendengar salah seorang ahli hikmah Samarkand
berkata : Ada salah
seorang pelajar yang mengajakku bermusyawarah mengenai masalah-masalah mencari
ilmu, sedang ia sendiri telah bermaksud ke Bochara untuk belajar disana.
Seharusnya para pelajar suka bermusyawarah dalam segala hal yang dihadapi. Karena Allah Swt
memerintahkan Rasulullah Saw. Agar memusyawarahkan segala halnya. Toh tiada
orang lain yang lebih pintar dari beliau, dan masih diperintahkan musyawarah,
hingga urusan-urusan rumah tangga beliau sendiri.
Ali ra berkata : "Tiada seorangpun yang rusak karena musyawarah",
beliau juga berkata :
"Satu orang utuh, setengah orang dan orang tak berarti. Orang utuh yaitu yang mempunyai pendapat
benar juga mau bermusyawarah , sedang setengah orang yaitu yang mempunyai
pendapat benar tetapi tidak mau bermusyawarah, atau turut bermusyawarah tetapi
tidak mempunyai pendapat dan orang yang tidak berarti adalah yang
tidak mempunyai pendapat lagi pula tidak mau ikut musyawarah." Kepada
Sufyan Ats-Tsuriy, Ja'far Ash-Shodik ra berkata: "Musyawarahkan urusanmu
dengan orang-orang yang bertaqwa kepada Allah."
Menuntut ilmu adalah perkara paling mulia, tetapi juga
paling sulit. Karena itulah, musyawarah lebih
penting dan diharuskan pelaksanaannya.
Al-Hakim berucap : "Jikalau engkau pergi ke Bochara, janganlah engkau
ikut-ikut perselisihan para imam. Tenanglah lebih dulu selama dua bulan, guna
mempertimbangkan dan memilih guru. Karena bisa juga engkau pergi kepada orang
alim dan mulai belajar kepadanya, tiba-tiba pelajarannya tidak menarik dan
tidak cocok untukmu, akhirnya belajarmupun tidak dapat berkah. Karena itu,
pertimbangkanlah dahulu selama dua bulan untuk memilih gurumu itu, dan
bermusyawarahlah agar tepat, serta tidak lagi ingin berpindah ataupun berpaling
dari guru tersebut. Dengan begitu, engkau mendapat kemantapan belajar di situ,
mendapat berkah dan banyak kemampaatan ilmu yang kamu peroleh."
E. Sabar dan Tabah
Dalam Belajar
Sabar dan tabah itu pangkal keutamaan dalam segala hal, tetapi jarang yang
bisa melakukan. Sebagaimana syaiir dikatakan:
- Segala sesuatu, maunya tinggi yang di tuju
- Tapi jarang, hati tabah di emban orang
Ada dikatakan : "Keberanian ialah sabar sejenak." Maka sebaiknya
pelajar mempunyai hati tabah dan sabar dalam belajar kepada sang guru, dalam
mempelajari suatu kitab jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna dipelajari,
dalam satu bidang ilmu jangan sampai berpindah bidang lain sebelum memahaminya
benar-benar, dan juga dalam tempat belajar jangan sampai berpindah kelain
daerah kecuali karena terpaksa. Kalau hal ini di langgar, dapat membuat urusan
jadi kacau balau, hati tidak tenang, waktupun terbuang dan melukai hati sang
guru.
Sebaiknya
pula, pelajar selalu memegangi kesabaran hatinya dalam mengekang kehendak hawa
nafsunya. Seorang penyair berkata :
- Hawa nafsu, dialah hina
- Tiap jajahan nafsu, berarti kalahan si hina
Juga berhati sabar dalam menghadapi cobaan dan bencana. Ada dikatakan :
"Gudang simpanan cita, terletak pada banyaknya bencana."
Di
syairkan untuk saya ada yang berpendapat bahwa syair ini dari gubahan Ali bin
Abu Tholib sebagai berikut:
- Tak bisa kau raih ilmu, tanpa memakai 6 senjata
- Kututurkan ini padamu, kan jelaslah semuanya.
- Cerdas, sabar dan loba, jangan lupa mengisi saku
- Sang guru mau membina, kau sanggup sepanjang waktu


0 komentar:
Posting Komentar